A: Awal, Akhir, dan Aku

A:Awal, Akhir, dan Aku

Tahun 2012. Ah, siapa yang tidak ingat tahun itu? Bagi sebagian orang, itu adalah tahun kiamat—katanya dunia akan berakhir. Tapi bagi aku, tahun itu lebih mirip dengan kejutan yang tak terduga. Bukan karena dunia berakhir, tapi karena aku malah mulai jatuh cinta. Ironis, kan?

Jatuh cinta pertama kali, tepat di tahun yang katanya apokaliptik. Waktu itu, aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu mulai muncul. Tiba-tiba saja, tanpa tanda-tanda, satu nama mulai menyelinap masuk ke dalam hatiku—sebuah nama yang sampai sekarang masih ada di sana. Tidak tampak di permukaan, tapi entah bagaimana, dia tetap ada, menguasai sudut-sudut hati yang aku sendiri tak tahu ada di mana.

Dan ya, dia adalah "dia"—Seorang perempuan. Sejak saat itu, aku rasa aku sudah menjadi korban dari cinta pertama yang entah kenapa terasa begitu mengikat, tapi di sisi lain, membuatku bingung kenapa perasaan ini belum juga bisa hilang.

Pertemuan pertama kami terjadi ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Hari itu, aku diajak nongkrong oleh teman-teman. Mereka bilang "I" (temenku) akan bertemu dengan seorang cewek bernama "A". Bukan aku yang ingin bertemu dengannya—melainkan "I". Semua orang di tongkrongan mengenalnya. Semua, kecuali aku. Mengetahui itu, temanku bereaksi.. “Masa iya lu gak kenal?”

Dalam hati aku bergumam:

“Kenapa juga gua harus kenal dia?”

Saat tiba di tempat pertemuan. "I" langsung menghampiri A—perempuan yang jadi alasan sore itu dibuat. Sementara aku? Sibuk tertawa-tawa dengan yang lain. Sama sekali tak tertarik mengenalnya. Tak sepatah kata pun kulontarkan. Bahkan menatap pun rasanya tidak perlu.

Sore itu berlalu begitu saja. Tanpa kesan. Tanpa pertanyaan. Tanpa rasa.

Beberapa waktu kemudian, "I" bercerita. Katanya, dia ingin nembak "A". Karna mereka sudah sering sekali bertukar pesan—SMS, katanya sih udah cocok banget. Aku dan satu teman lain pun menemaninya ke kebun—tempat biasa kami nongkrong. Tak lama, "A" datang. "I" gugup, kehilangan kata-kata. Aku dan temanku cekikikan menertawainya😂. Akhirnya kami juga yang bantuin dia nyusun kalimat nembak.

Dan ya, mereka jadian hari itu.

Setelahnya, suasana jadi beda. Lebih rame. Lebih hangat. Kami sering kumpul berpasang-pasangan. Bukan ke mall atau kafe—kami pacaran di lapangan bola, di kebun, di warung pojok. Tempat-tempat sederhana, tapi penuh cerita.

Aku juga punya pacar waktu itu. Tapi aneh, gak ada rasa. Hambar. Hubungannya kayak formalitas doang. Mungkin karena aku belum bener-bener punya rasa jatuh cinta.

Lucunya, aku malah dikenal sebagai playboy. Padahal, satu cewek aja gak pernah bisa bener-bener bikin aku jatuh sampai dalam. Aku gak pernah cari siapa-siapa. Aku cuma ikut arus. Menunggu waktu. Mungkin… seseorang yang bisa bikin aku berhenti merasa kosong.

A:Awal, Akhir, dan Aku

Singkat cerita, suatu sore di kebun, ponselku bunyi. Pesan dari nomor tak dikenal.
“Ini aku, A.”

Aku diam, dan bertanya-tanya. Kenapa dia ngirimin aku SMS? Dapat nomorku dari mana? Ada urusan apa?

Dari sinilah semuanya dimulai. Aku lupa persis semua isi pesan-pesan kami. Tapi yang jelas, sejak hari itu, semuanya berubah. Menurutku "A" bukan cuma pacar temanku. Dia mulai jadi bagian dari hari-hariku.

Singkat cerita, aku putus. Dan "A" masih pacaran dengan temanku. Tapi hatiku tahu… sesuatu sedang tumbuh.

Beberapa kali aku lihat dia nangis diam-diam. Dan jujur aja, hatiku terasa sesak. Bukan karena aku cinta—belum saat itu. Tapi karena aku gak tahan lihat perempuan sekuat dia rapuh tanpa suara.

Sampai akhirnya aku hampiri dan negur temenku:
“Itu cewek lu kenapa? Nangis gitu?”
Dia cuma bergumam. Males jawab. Seolah nyuruh aku gak usah ikut campur.

Tapi aku gak tahan, dan menyambung kalimatku.
“Udahin dulu mainnya. Ajak ngobrol. Selesaikan baik-baik.”
Dia pun nurut.

Setelah itu, "A" makin sering hubungi aku. Kadang ngajak ketemu. Dan entah kenapa, aku selalu ngiyain. Padahal aku tahu… dia masih pacar temenku.

Hari demi hari, aku mulai nyaman. Kalau ketemu dia, rasanya tuh tenang pake banget. Matanya dalam. Senyumnya lembut. Dan perlahan… aku mulai sadar: rasa yang tadinya samar, pelan-pelan berubah jadi debar.

Bukan sekadar nyaman. Tapi ingin.

"A" pernah bilang, dia pengen putus. Tapi nunggu waktu yang tepat.
Aku cuma dengerin. Bukan karena takut berharap. Tapi karena aku belum tahu gimana caranya menyikapi perasaan yang belum utuh.

Aku diam. Bukan karena takut melangkah. Tapi karena terkadang… diam adalah bentuk paling jujur dari perasaan yang belum sempat diberi nama.

Ohya, di tongkrongan kami ada satu abang-abangan. Katanya dia punya intuisi tajam, bahkan kayak indra keenam. Entah gimana, dia tahu semua tentang aku dan "A". Tanpa aku cerita apa-apa. Tapi dia gak nge-judge. Gak marah. Gak nyindir. Cuma bilang:
“gua ngerti, dif.”

Mungkin karena dia tahu… ini bukan main-main. aku gak berniat merebut. aku cuma... gak bisa lagi pura-pura gak ngerasain.

Tiba saatnya, "A" dan temenku putus. Aku tahu karna, A ngirim broadcast SMS (STATUS WA JAMAN DULU):
“Baru putus… berharap dapat dia.”

Aku tahu, itu buat aku. Tapi aku tetap diam. Masih berpura-pura gak ngerti.

Tak lama, "A" ngabarin: dia bakal pindah kota. Ada urusan pekerjaan yang mengharuskan Ayahnya membawa keluarganya untuk pindah kota. Balik ke kota asal mereka.

Sebelum pindah, kami sering pulang sekolah bareng. Jalan kaki, gandengan tangan, ngelewatin sawah dan perumahan yang belum jadi. Kami belum jadian. Tapi rasanya... kayak udah jadi segalanya.

Dan saat rasa itu tumbuh paling indah… dia harus pergi.

Hari itu aku nongkrong. Dengan nada bercanda, aku bilang ke "I":
“Cie, yang mau ditinggal ke luar kota…” (Seolah-olah gak tau kalo mereka udah putus).

Dia diem. Gak nyaut. Tapi dari matanya… aku tahu. Mungkin dia tahu aku deket dengan "A". Mungkin dia ngerasa… aku yang bikin semuanya berantakan.

Sesaat kemudian, ada satu sosok manusia yang keluar dari balik pintu rumah, yap dia abang-abanganku.

Tanpa bicara, aku langsung ditariknya untuk masuk ke rumah. Terus pelan-pelan ngomong:
“Lu jangan gitu. Kelihatan banget lu deket sama "A".”

A:Awal, Akhir, dan Aku

Aku cuma diem. Karena maksud aku cuma bercanda. Tapi ternyata… gak semua luka bisa ditertawakan.

Aku pulang hari itu dengan kepala berat. Penuh sesal.

Hari berganti. Aku dan "I" gak pernah ngobrol lagi. Bahkan tongkrongan kami pecah. Beberapa kali sempat ingin tawuran dengan kelompok "I". Tapi aku udah gak peduli.

Karna disini saat yang menyedihkan pun tiba, yapp... A pindah.
Aku gak nganter dia, karna aku tau dia gak boleh pacaran. Dan kami hanya berpamitan melalui SMS.
Tapi sebelum dia benar-benar pergi… kami jadian. Resmi.

Ironis, bukan?

Kami bersama… tapi dipisahkan oleh jarak.

— Bersambung.. —

About the author

GREEN
Definisi hobi ngetik ketika gabut.

Post a Comment